Out of the Box

Posted On Februari 21, 2017

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Pengin madrasah maju? Para pemegang kendali madrasah harus berani melakukan yang berbeda dengan keumuman yang ada. Bukan sekedar beda, namun berbeda dengan  segala kreatifitasnya dalam memajukan madrasah. Jadi, memajukan madrasah harus berani keluar dari kebiasaan yang ada.

Ada tiga hal yang harus dilakukan oleh para pendidik dan tenaga kependidikan untuk memajukan madradah: self certification, self supervation , dan self development. Dengan  tiga hal tersebut kemudian perubahan akan terjadi.

Dalam konteks keindonesiaan saat ini, sebenarnya madrasah memiliki peran penting dalam menyiapkan generasi tangguh. Bukan hanya generasi yang melek teknologi dan ilmu pengetahuan, namun juga harus tangguh dalam moral.

HARUS LULUS!

Posted On April 6, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

“Aku harus lulus!”

Kalimat tersebut sering diteriakkan siswa kelas 9 MTs N Semanu Gunungkidul. Itu paling tidak dua bulan sebelum memasuki UN. Kesempatan upacara, Pembina mengajak menerikkan yel-yel dambaan tersebut. Setelah sholat, mengawali pelajaran, mengakhiri pelajaran. Pokoknya hanpir tiap kesempatan siswa kelas 9 menerikkannya.

“Agar lulus, apa yang harus kamu lakukan?”, tanya seorang guru pembina.

“Belajar!”, jawabnya dengan tegas dan serempak.

“Sudahkah kamu aktif belajar?”

“Belum!”, jawab para siswa tanpa beban,

“Selain belajar, apa yang harus kamu lakukan?”

“Berdoa”!

“Bagus, kamu harus selalu berdoa. Agar kamu diberi kemudahan belajar. Siapa yang tadi pagi sholat subuh? Silakan tunjuk jari!”

Pembina sangat kaget, dari 155 siswa yang ditaynya, tidak sampai 50  siswa  mengangkat tangan asebagai tanda bahwa pagi tadi mereka sholat subuh. Luar biasa. Dengan nada keheranan pembina melanjutkan cengkeramanya dengan calon peserta ujian.

“Anak-ankkku, yang punya lulus itu Allah. Jika kamu minta lulus pasti dikabulkan. Tetapi ada syarat yang harus dipenuhi: kamu harus belajar giat dan minta kepada Allah. Cara meminta, harus dengan sabar dan sholat. Mulailah, Nak dari sekarang. Jangan tunda  lagi .  Masih ada kesempatan”.

Pembina seakan tidak akan berhenti menasihati. Pembina bingung, dengan cara apa lagi dapat memotivasi paa siswanya untuk siap lulus.

Inikah yang terjadi di marasah atau sekolah lain?

Jika benar, sungguh memprihatinkan.

MURID BARU = SERAGAM BARU

Posted On Februari 24, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Tidak ada kepastian hukum memang, bahwa murid maru harus membeli seragam baru.  Kenyataan yang ada memang dirasa berbeda, terbukti sebagian besar sekolah/madrasah menerapkan seragam baru bagi  murid baru. Kenyataan ini yang sering menimbulkan masalah, pro dan kontra. Meskipun sering muncul pernyataan dari para petinggi pendidikan, bahwa sekolah tidak harus menerapkan pakaian seragam bagi muridnya, namun kenyataannya hanya sedikit sekolah/madrasah yang menepati pernyataan tersebut.  Pakaian seragam dijadikan salah alasan menyulitkan pembiayaan pendidikan.

Lain dengan kenyataan di lapangan. Sekolah/madrasah terkadang dibuat bingung juga. Satu sisi akan menerapkan tidak wajib menggunakan pakaian seragam agar tidak memberarkan murid/orangtua, sisi lain kerapian dalam berpakain menjadi satu indikator ketertiban dan kerapian.  Juga, tidak sedikit orang tua yang menghendaki adanhya pakaian seragam bagi anaknya. Mereka bangga apabila anaknya menggunakan pakaian seragam sekolah. Yang lebih penting lagi, dengan pakaian seragam anak akan mudah dikenali.

Yang perlu mendapat perhatian sebenarnya bukan seragamnya. Tetapi pakaiannya: jenisnya, penggunaannya. Saya termasuk yang setuju murid tidak harus selamanya menggunakan pakaian seragam.  Bukan berarti murid dibebaskan asal menggunakan pakaian. Murid benar-benar diarahkan bagaimana akhlak berpakaian. Waktunya yang diseragamkan, kapan murid menggunakan pakaian yang serba seragam, dan kapan murid boleh menggunakan pakaian yang tidak berseragam.

Harus diakui. Satu diantara keberatannya menyeragaman pakaian bagi murid adalah ketidaktransparannya dalam pengadaan yang dikelola oleh sekolah/madrasah. Perbedaan selisih harga antara di toko dengan harga yang dikelola sekolah/madrasah mengakibatkan kecurigaan. Sekaligus memberatkan orang tua. Apalagi hampir dapat dipastikan, setiap tahun ajaran baru yang seragam baru tidak hanya murid. Guru dan karyawan pun ikut berseragam baru.  Timbul pertanyaan, “Seragam guru dan karyawan baru itu dari mana?”

Ada beberapa  modus  curang terkait pengadaan seragam sekolah/madrasah. Satu dainatara modus tersebut adalah sekolah/madrasah  mencari rekanan yang dapat memberikan pengembalian banyak untuk sekolah/madrasah (-baca: pengelola (panitia).  Menjelang tahun  penerimaan peserta didik baru selain panitia mencari rekanan  pembanding, terkadang jauh hari rekanan akan datang ke sekolah/madrasah. Lebih lagi, rekanan mengumpulkan para kepala sekolah/madrasah dengan berbagai iming-iming. Tidak cukup sampai di situ, rekanan akan datang silaturahmi ke rumah para kepala sekolah/madrasah. Satu tujuannya utamanya mengegolkan penawaran dan kerjasamanya.

Kepala sekolah  yang tidak tahan uji terseret untuk mengiyakan. Apalagi tawaran berbagai bonus khusus untuk kepala sangat menggiurkan.  Dari potongan 25% khusus untuk kepala dan 15% untuk panitia. Belum lagi jaminan kain seragam bagi seluruh guru/karyawan. Masih bahan khusus untuk panitia, dan sangat khusus bagi kepala dan istri/suami.  Bahasa bonus inilah kadang yang menjadi akar masalah.

Ternyata bukan masalah seragam, tetapi masalah harga dan keterbukaan kepada pihak terkait penyeragaman pakaian sekolah itu diterima atau memberatkan.  Ketika orang tua murid kita tanya, seragam atau tidak? Jawabnya sebagian besar seragam.  Untuk meminimalkan masalah, sekolah/madrasah dapat secara terbuka menyampaikan beberpa informasu terkait penyeragaman. Informasi yang dapat disampaikan kepada pihak terkait: jenis, harga, dan di mana.

Insya Allah, jika dari awal kita niatkan penyeragaman pakaian murid itu benar- benar demi ketertiban dan kerapian, serta adanya transparansi dalam pengadaan, fasilitasi pengadaan seragam sekolah/madrash tidak akan menjadi masalah.

Mari kita coba. Insya Allah bisa.

GURU MADRASAH

Posted On Februari 23, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped 2 responses

Blog Pendidikanhttp://faizuz.com

Samakah guru madrasah dengan guru pada sekolah umum? Jawabnya beragam. Dapat sama. Dapat pula berbeda. Perbedaan jawaban tersebut tergantung dari sudut mana melihatnya. Secara umum  setiap guru memiliki kompetensi sama. Namun, ketika  ada yang mengatakan bahwa dirinya mengajar di madrasah, orang yang mendengar langsung memiliki prasangka guru tersebut memiliki kompetensi keberagamaan lebih.

Perlu ditindaklanjuti anggapan  tersebut. Benarkah guru madrasah rata-rata memiliki kompetensi keberagamaan lebih daripada guru di luar madrasah? Jawaban atas masalah tersebut adapat kita lihat dari beberapa hal. Pertama, aktifitas guru tersebut dalam melaksanakan atau mengimplementasikan keberagamaan dalam hidup kesehariannya. Kedua, guru madrasah banyak terlibat dalam kegiatan keagamaan, baik di madrasah maupun di masyarakat. Ketiga, kegiatan keagamaan di madrasah lebih banyak dan lebih berkualitas. Keempat, tingkat keberagamaan siswa madrasah lebih dari pada siswa sekolah umum. Tentu masih ada aspek lain yang dapat mencirikan kompetensi keberagamaan guru madrasah.

Ada masalah yang sunggguh mengelitik  terkait dengan guru madrasah. Yang dikatakan tidak dapat adzan, tidak dapat ngaji (baca Quran), tidak a dapat ngisi pengajian, apa lagi khutbah. Jelas, pernyataan tersebut tidak untuk semua guru madrasah. Hanya saja, karena anggapan masyarakat bahwa madrasah adalah sekolah agama, maka sangat ironis bila ada guru madrasah yang tidak memenuhi harapan masyarakat  pada umumnya. Terkadang, cibiran tersebut masih dapat ditangkis dengan pernyataan, “Saya bukan guru agama.  Pelajaran agama sudah menjadi tanggung jawab guru agama. Sehingga saya tidak harus dapat ngaji, ngisi pengajian, apalagi khutbah”.

Kita tahu, jawaban tangkisan tersebut tidak tepat. Sebab, guru apa pun selama dia muslim wajib menimba dan memiliki kompetensi kebergamaan yang memadai. Kenyataan yang saat ini ada mungkin seperti itu.  Paling tidak untuk guru madrasah di lingkungan Kemetrian Agama Kabupaten Gunungkidul Yogyakarta.  Sistem penerimaan guru madrasah yang “kurang” selektif dalam kompetensi keberagamaan, menjadi salah satu sebab masalah tersebut.  Guru terangkat karena tes tertulis saja belum mampu memberikan jawaban apakah calaon pegawai tersebut memiki keberagamaan yang baik. Buktinya, ada beberapa guru yang sudah CPNS ternyata sangkaan miring di atas melekat semua pada diri CPNS tersebut.

Nasi telah menjadi bubur. Peribahasa tersebut harus tidak berlaku untuk guru madrasah.  Artinya, guru yang ternyata belum memiliki kompetensi  layaknya sebagai  guru di madrasah,  dibimbing terus menerus agar benar-benar mampu menjawab harapan masyarakat. Bahwa guru madrasah adalah guru yang siap pakai dalam amaliah keagamaan di keluarga, madrasah, dan masyarakat. Memang tidak  semudah membalikkan tangan agar guru mau aktif dalam kegiatan yang mengarah  kepada peningkatan SDM.

Kualitas guru madrasah juga dapat dilihat dari output madarsah tersebut. Adakah perbedaan keberagamaan lulusan madrasah dengan lulusan SMP? Ukuaran praktis yang digunakan oleh masyarakat adalah aktifitas sholatnya, pengajian, dan membaca Al-Quran.  Apabila ternyata lulusan madarasah memiliki nilai lebih dalam hal tersebut, tentu guru akan terlibat di dalam menyiapkannya. Tetapi, apabila ternyata lulusan madrasah tidak berbeda akan keberagamaannya dengan lulusan SMP, juga guru madrasah akan kena imbasnya.

Saudaraku, kita guru madrasah. Tanggung jawab kita lebih berat dibanding dengan guru di luar madrasah. Kita mempunyai tanggung jawab ganda. Ilmu pengetahuan secara umum sesuai dengan profesi kita dan ilmu  agama. Sekali lagi, mari kita tumbuhkan rasa tanggung jawab dalam diri kita. Siswa kita tidak akan hanya kita siapkan menjadi anak pinter, tetapi juga anak yang penuh amaliah keagamaan. Singkatnya, guru dan madrasah harus mampu menyiapkan kader umat untuk masa depan.

PENGAWAS MATA PELAJARAN DI MADRASAH

Posted On Februari 2, 2010

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Bagi madrasah, pengawas hanya ada satu:  pengawas PAI.  Pengawas tersebut benar-benar “hebat”. Orang Yogya menyebutnya pengawas Raden Ngabehi. Raden Ngabehi bukan gelar keraton. Tidak lebih sekedar bahasa sindiran untuk para pengawas yang serba bisa dan serba tahu tersebut. Toh kenyataannya mereka sadar tidak kompeten, namun aturanlah yang memaksanya menjadi itu.

Pengawas di madrasah (Departemen Agama)  memiliki tugas yang berat. Selain mengawasi kinerja para guru PAI, beliau juga harus mengawasi guru mata pelajaran umum. Apa ini tidak hebat? Bayangkan saja, pengawas yang memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Arab, karena jabatannya harus mengawasi mata pelajaran lain. Hasilnya?

Inilah masalah besar kita di madrasah.  Dalama satu sisi kita dituntut untuk meningkatkan mutu pendidikan di madrasah, yang salama ini selalu dipandang sebagai sekolah nomor dua, namun dalam sisi lain pendukung untuk kemajuan belum tersediakan.

Februari 2010 ini misalnya, Kanwil Depag DI Yogyakarta mengadakan seleksi calon pengawas , tapi masih terbatas untuk guru PAI. Tentu pertanyaan yang kemudian muncul, apakah nanti bagi yang lolos dan diangkat menjadi pengawas di lingkungan madrasah juga akan mengawasi untuk semua guru: PAI dan mata pelajaran umum?

Satu diantara indikator keberhasilan pendidikan adalah evaluasi. Satu diantara bentuk evaluasi adalah evaluasi kinerja guru oleh pengawas yang memiliki kompetensi keguruan dan sesuai dengan keahliannya. Kenyataan saat ini bahwa jabatan pengawas sering merupakan “buangan” bagi pegawai yang akan pensiun harus segera diakhiri. Lalu, Deapartemen Agama segera mengadakan  pengangkatan pengawas untuk mata pelajaran umum.

Ini sekedar wawasan. Tentu bukan sekedar lamunan, karena ini merupakan bentuk keprihatinan penulis akan kenyataan yang saat ini ada. Sekaligus, ini wujud kepedulian penulis terhadap nasib madrasah kita.   Seimbangkah jumlah guru dengan pengawas yang ada? Jawabnya pasti belum.  Nah, ini tentu menjadi PR kita semua. Bagaimana dengan pengawas yang masih sangat kurang ini, mutu pembelajaran di madrasah dapat ditingkatkan.

Idealnya memang, setiap guru mata pelajaran akan mendapat pengawasan dan sekaligus pembinaan dari guru yang sesuai dengan bidang ahlinya.  Paling tidak masih satu rumpun mata pelajaran. Misalnya, Pengawas dengan spesialisasi Quran-Hadits dapat mengawasi mata pelajaran PAI lainnya.  Pengawas dengan kehalian Fisika dapat mengawasi  guru biologi/kimia. Pengawas dengan keahlian Bahasa Inggris, dapat mengawasi guru bahasa lainnya.

Apalagi, saat ini tuntutan menjadi guru profesional disambut dengan semangat gelora oleh semua guru. Bahkan, guru yang tadinya sudah malas meraih ilmu standar Strata satu pun saat ini menempuhnya dengan segala cara.  Guru yang tadinya sudah “loyo” pun, saat ini bergairah untuk  dapat memenuhi standar sebagai guru profesional. lalu, pertanyaannya, agar dapat menjadi guru profesional atau untuk “sekedar’ mendapat tunjangan profesional? Akibatnya, banyak guru yang menempuh pemenuhan portofolio dengan 1001 cara. Tidak dapat yang halal, cara haram pun dapat ditempuhnya. Yang penting lolos portofolio, dan mendapat sertifikat sebagai guru profesional.

Lain dengan guru yang penuh sadar akan segala kekurangannya. Mereka meraih gelar dengan semangat belajar dan berlatih. Dan, melalui pendidikan profesionalitas gurulah cara yang paling tepat. Hasilnya, guru bukan sekedar profesional bukan sekedar karbitan. Mereka melalui pendidikan, pelatihan, dan ujian.  Mutu di depan kelas? Dapat dibuktikan.

Nah, jika guru madrasah yang profesional tersebut melalui cara yang kedua, pengawas kurang pun, insya Allah akan bekerja secara profesiaonal pula. Ini bukan berarti tidak setuju dengan jalur portofolio. Namun, di lapangan telah terbuktikan. Guru profesional hasil PLPG memiliki “krlrbihan” dengan yang lolos portofoilio . Sekali lagi, meskipun ini tidak dapat digunakan untuk menggeneralisasi.

Kembali ke pengawas. Tugas pengawas berat pula. Tetapi dengan tunjangan profesional sebagai pengawas, sebenaarnya akan menggantikan kelelahannya juga. Bahasa miring yang sering kita dengar, bahwa pengawa datang ke madrasah hanya pada saat-saat ada kegiatan rutinitas saja, misalnya ujian,  harusnya mulai terkikis. Kelak, dengan peraturan baru kepengawasan, pengawas adalah sosok pegawai terhormat yang memiliki penghasilan lumayan. Pengawas yang akan datang adalah pengawas yang benar-benar profesional sesuai bidang keahliannya.

Insya Allah, dengan segala kemantapan menatap masa depan madrasah, cita-cita luhur menjadikan madrasah sebagai lembaga pendidikan bermutu akan terjawabkan.

GURU PNS MAKIN SEJAHTERA

Posted On Desember 2, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Gaji guru PNS akan naik.  Mulai Januari 2009 guru PNS akan mendapat tambahan gaji  sebesar 250 ribu per bulan. Tentu disambut gembira oleh para guru yang bisa merharap akan menerima.  Hanya saja tambahan tersebut dikhususkan bagi guru PNS yang belum mendapat tunjangan sertifikasi.

Lalu bagaimana nasib guru yang sudah lulus sertifikasi dan telah menyandang sebagai guru profesional, akankah segera mendapat haknya? Pertanyaan yang sering muncul tersebut sulit ditebak jawabnya.  Ada pakar yang berkomentar, “Jika pemerintah harus membayar tunjangan guru yang telah tersertifikasi saat ini, lalu uang dari mana?” Pernyataan tersebut sempat membuat sesak nafas para guru yang sudah lulus dan tinggal nunggu ngucurnya tunjangan.

Memang, kelihatannya tunjangan profesi atau sertifikasi guru  masih menyisakan masalah. Masalah bagi non-guru. Pasalnya, di lapangan masih banyak dilihat kinerja guru yang ternyata masih jauh dari standar yang diharapkan. Hal tersebut dapat dilihat dari  aktifitas masuknya, cara mengajarnya, dan perhatian kepada dunia pendidikan. bahkan ada yang komentar, setelah ada sertifikasi sebagian kinerja guru menurun, lantaran guru hanya sibuk mempersiapkan hal-hal yang terkait persyaratan admnistrasi.

Kembali kepada 250 ribu. Jelas itu sangat berarti. Namun, Saudaraku sesaama guru, mari jujur  tanya nurani kita, ” Sebandingkah kinerja kita dengan gaji yang kita terima ?” Gaji guru itu banyak. Kerja guru itu mulia. Tetapi bisa gaji tersebut menjadi petaka ketika kita tidak bertanggung jawab akan tugas kita. 

Berikut sebagian sebab gaji kita dapat menjadi petaka:

1. Kita banyak bolos ngajar.

2. Mengajar tidak dengan persiapan yang memadai.

3. Mengajar tidak berorentasi kepada koptensi siswa.

4. Mengajar hanya cukup menyelesaikan paket buku.

5. Kita banyak meninggalkan kelas. 

6. Tentu masih banyak yang lainnya.

Mari, kita saling berbagi nasihat. Insya Allah keberkahan Allah akan selalu dilimpahkan kepada kita, apabila kita benar-benar menjadi guru dan pendidik yang profesional beneran.

MERDEKA

Posted On Agustus 17, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Berbagai kegiatan yang dilaksanakan dari tingkat RT sampai kenegaraan tertuju pada satu peristiwa: HUT Kemerdekaan Indonesia.

Paling tidak di desaku, Ponjong, Ponjong, Gunungkidul. Kesepian malam sebulan ini terkoyak oleh keramain berbagai kegiatan untuk merayakan kemerdekaan itu. Meski tidak semua warga masyarakat desa itu tahu apa sesungguhnya makna kemerdekaan itu. Di antara mereka ada yang memaknai merdeka adalah tidak dijajah Londo lagi; tidak dijajah Nipon lagi.  Yang sudah kanjut usia, dan masih segar ingatan masa lalunya akan berapi-api menceritaakan pahitnya masa penjajahan.  Bebera kata Londo maupun Nipon masih melekat betul dalam ingatan. 

Dari cerita itu ada yang membuat saya tidak paham. Ketika jaman Nipon, misalnya,  diceritakan tentang keharusan keluarga  membuat lubang tanah di jogan masing-masing. Diharapkan lubang tersebut bisa memuat seluruh anggota keluarga.  Saat masyarakat mendengar tanda, kadang suara sirine atau kenthongan, mereka harus segera masuk kelubangan tanah itu.  Kedua tangan harus menutup kedua telingan rapat-rapat. 

Ketika penulis menanyakan akan hal tersebut,  pengenang tersebut ternyata tidak bisa menjelaskan panjang lebar. Tahu mereka, setiap selesai peristiwa itu harta-benda-kekayaan berkurang banyak. Ada yang sapinya hilang,  Kambingnya rahib, penenan berkurang banyak. Dan masih banyak lagi  keanehan itu.  
Lalu, apakah masyrakat semua bodoh? Tidak. Sebenarnya banyak yang tahu juga. Bahwa perintah masuk lubang dan menutup telinga rapat-rapat itu untuk mengelabui saja. Sebab, setiap ada sirine atau bunyi kentongan bertalu Nipon dan anthek-antheknya akan gerilya jajah desa milang kori untuk maling kekayaan masyarakat. Masyarakat dibuat takut.

Merdeka adalah lomba makan kerupuk, lomba yang lucu-lucu. Sampai yang agak nyrempet-nyrempet bahaya, panjat pinang. Semua masyarakat pedesaan akan berpartisipasi habis-habisan. Bahkan, terkadang akibat dari aktifitasnya mengikuti berbagai lomba menyemarakkan HUT kemedekaan tersebut, mereka ikhlas. Sekali lagi ikhlas untuk sakit. Kang Paijo, misalnya. Dengan pakain daster dia mengikuti pertandingan sepak bola. Engkel dengkulnya tidak dirasakan lagi. Alhasil, ketika mengejar bola liar engkelnya kumat. Yang lain: ada yang garesnya mlenthung, Kang Hengky malah nyeplok kuku ibujarinya. Mereka tidak ada yang mengeluh. Mereka bangga akan perjuangannya mempertahankan kemerdekaan. Sakit dan loyonya badan adalah tbusan bagi para pejuang yang telah merebut kata merdeka.

Nah, ada yang sangat lucu. Namanya saja di ndesa. Acara tirakat malem 17 te lah disusun oleh panitia tingkat kecamatan atau kabupaten. Tidak ada yang tersisa. Tidak ada yang terlewatkan. Termasuk pembacaan puisi perjuangan.  Puisi Aku-nya Chairil Anwar dibacakan. Nada pembacaannya pun slendro.  Yang penulis bingung, apa makna puisi tersebut bagi Yu Diyem, Kang Beja, dan masyarakat yang sebagain besar tidak tahu apa itu puisi. 

Itulah kemerdekaan kita. Kemerdekaan yang sedang kita rayakan. 

Namun, sudahkah masyarakat kita benar-benar merdeka?

SUSAHNYA UNTUK SHOLAT

Posted On Juli 30, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Dalam benak saya, madrasah adalah sekolah agama. Paling tidak pelajaran agama akan lebih banyak daripada sekolah umum. Ini pun terbukti. Dalam struktur kurikulum madrasah (baca MTs)  pelajaran PAI ada  6 jam di tambah 2 jam bahasa Arab. Sedangkan di sekolah umum hanya ada 2 jam. 

Harusnya, siswa madrasah lebih baik beribadanya  dan memiliki kualitas keimanan yang prima.  Ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengalaman dan kenyataan tersebut saya rasakan sejak tahun 1992,  pertama kali saya menjadi guru di sebuah MTs.  Kumandang adzan tidak segera disambut dengan bergegas ke tempat wudlu. Siswa harus di”uyak-uyak”, digiring, bahkan dipaksa agaar mau malksanakn sholat.  Sekali lagi, meskipun ini tidak mewakili semua madrasah, namun ini yang penulis rasakan di beberapa MTs di Gunungkidul.

 Kebiasaan penulis,  setiap masuk kelas pagi menanyakan siapa yang tidak sholat shubuh. Terakhir  pada hari Rabu, 29 Juli 2009. “Coba jujur, siapa yang tadi sholat shubuh?” Dari 28  siswa kelas 9 C itu, hanya ada satu anak yang tunjuk jari.  Artinya , 27 siswa lainnya tidak melaksanakan shubuh. Penulis masih  husnundzon, yang putri sedang datang bulan semua. “Yang putri, siapa yang saat ini haid?” Ada 3 siswa yang tunjuk jari. Ketika penulis tanyakan mengapa tidak sholat, siswa tiak ada yang menjawab. Ketika penulis tanyakan apakah tidak dimarahi orang tua bila tidak sholat. Jawab para siswa mengagetkan. Sebagian besar, bahkan hampir semua mengatakan tidak diingatkan apalagi kena marah orang tua.  Lho?

MURID BARU = SERAGAM BARU = PAKAIAN GURU (TERNYATA JUGA) BARU

Posted On Juli 23, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Meskipun pemerintah tidak mengahruskan seragam sekolah, tetapi kenyataannya hampir semua sekolah menetapkan segaram bagi peserta didiknya.  Peringatan  pemerintrah, agar sekolah tidak  mengadakan/mewajibkan apalagi mengelola pengadaan seragam ternyata tidak sepernuhnya mendapat perhatian pengelola sekolah. Ada saja alasan agar (akhirnya) sekolah mengelola seragam. Tidak rahasia lagi,  setiap sekolah yang mengelola seragam bagi peserta didiknya,  ada keuntungan yang pasti didapatnya. 

Di Yogya misalnya. Adanya larangan sekolah mengelola pengadaan seragam, tidak mengurungkan usaha pengelola sekolah agaar bisa tetap mengelola. Bahasa dan caranya saja yang (sedikit) berbeda.  Satu di antara usaha tersebut adalah dengan cara menggiring siswa/para wali agar sekolah memfasilitasi pengeadaan seragam. Lalu, dibuatlah surat (yang seakan-akan datangnya  dari wali) yang isinya permohonan. Permohonan kepada sekolah agar difasilitasi pembelian seragam.  Surat dari wali tersebut dijadikan bukti bahwa ada permintaan dari wali kepada sekolah. 

Hal di atas dapat dimaklumi. Lalu,  adakah selisih harga bahan seragam tersebut  antara di toko dengan di sekolah?  Dhalang tidak kurang lakon. Siapa dhalangnya? Tentu saja yang bisa ngotak-atik aturan yang akhirnya menguntungkan sepihak dengan agak suram-suram. Bisa dibuktikan: hampir setiap penerimaan peserta didik baru, seragamnya baru. Begitu juga para guru/karyawan sekolah tersebut, juga baru.   

Namun, kita btidak perlu su’udhon terlalu jauh. Bisa-bisa harga memang sesuai yang dipathok toko. Karena sekolah telah menjadi perantara antara konsumen dengan toko, akhirnya pihak toko bagi-bagi untung. Ujudnya seragam bagi guru/karyawan. 

Sedangkan motif lain? Wallahu a’lam bish-showab.

MURID BARU

Posted On Juli 22, 2009

Filed under Uncategorized

Comments Dropped one response

Tidak hanya anak yang bingung. Orang tua pun lebih bingung.  Ketika hari penerimaan calon anak didik baru tiba, menyemut orang tua dengan anaknya menuju sekolah yang difaforitkan. Mereka itu rata-rata siswa yang memiliki angka hasil ujian nasional bagus. Namun, nilai bagus pun tidak cukup.  Orang tua harus berduit. Lho? Iya, sebab semurah-murahnya sekolah faforit duitnya pasti banyak.  Dan itu sudah menjadi rahasia umum. 

Ada siswa yang memiliki nilai lumayan bagus, rata-rata 9. Ketika ditanya mengapa tidak ke sekolah faforit, jawabnya sangat enteng, “Tidak punya biaya. Sekolah di sana mahal”. Lalu bagimana dengan iklan sekolah gratis?  Tentang sekolah gratis ini ada cerita menarik.  Maghrib itu saya pulang dari Yogya. Super Cup 83 yang saya naiki ternyata kempes di jalan.  Saya cari tukang tambal ban. Sambil menunggu hasil tambal jadi, ngobrollah saya dengan si Bapak dari 10 anak itu. 

“Pak,  pinten putranipun”?’.  “Selusin (sepuluh)”, jawabnya singkat. Saya semakin bernafsu untuk mengorek Bapak tua itu. “Ingkang sekolah taksih pinten, Pak?”.  “Lha wong sing lulus lagi papat, kok Mas. Sik lulus seka SMEA (sekarang SMK N I Wonosari) ini juara terus,  Mas. Ning wis tak pesen. nek ora ketampa  STAN ya wis  ora usah kuliah!”.

“Eman, Pak. Mbok ken daftar sanes”.

“Lha duwite kuwi mas. Sekolah gratis ki jebule mung ana TV. Nyatane, ngendi-endi bayar”.  Jawaban Pak Tukang Tambal Ban itu menyulutku untuk menawarkan dahaga di siang bolong. “Enten lho, Pak,  sekolah gratis. SMIK utawai Al-Hikmah Karangmojo”. Pancinganku  berhasil, ” Sekolah napa niku, Mas?”.  Saya jelaskan lumayan detail tentang Pondok Al-Hikmah Karang mojo dengan segala kependidikannya. Juga saya jelaskan tentang Pondok Syaikh AL-Albany Ponjong dengan kemudahan sekolah. Bahwa sampai saat ini kedua lembaga tersebut belum merepotkan pembiayaan pendidikan santri/siswanya kepada orang tua/wali.

Kembali ke awal,

Sekarang,  siapa yang akan ngurusi siswa yang kebetulan bernilai UN rendah. Rata-rata hanya di bawah angka 5? Bukankah mereka juga berhak menikmati pendidikan yang bagus?  Semua tahu, ngurusi siswa “cerdas” lebih mudah daripada ngurusi siswa “bodoh”. Bagaimana jika hal itu menimpa anak/keluarga kita: lemah, bodoh, tak berduit lagi? 

Kata singkat:  siswa yang kurang pinter, kurang uang  masih terpinggirkan. Mereka harus terima dengan sekolah yang belum bisa daikatakan bermutu.

Ada ketentuan, sekolah/madrasah perlu mengadakan tes penjaringan calon peserta didik baru. Dan itu lumrah yang terjadi. Bagi sekolah/madrasah yang pendaftarnya melebihi kuota, mereka memilih siswa yang mempunyai nilai bagus. Tapi, ada madrasah (MTsN)  meskipun pendaftarnya lebih tidak mengadakan seleksi. Yang mereka lakukan menutup pendaftaran ketika kuota  telah terpenuhi. Hasilnya: ada yang bernilai Un 10, tetapi ada juga yang di atas 27. Ada yang persis Harus, murid  penentu berlangsungnya sekolah dalam LAskar Pelangi.  Artinya ada yang rata-rata nilainya 3 dan ada pula yang 9,…. . Madrasah tersebut sebenarnya melandasi pendidikannya dengan tidak akan  membedakan si pinter dengan si bodoh. Prinsip yang dipegang semua anak bangsa sama: berhak mendapat pendidikan yang layak. 

Ketika pengumuman peneremaan tiba, madrash tersebut banyak di datangi calon peserta didik diseertai orang tuanya. Mereka ingi n agar bisa diterima di madrasah tersebut. Mereja kecewa. Merajuk, bahkan ada yang ngrundel. Tetapi, sikap madrasah itu tetap istiqomah. “Maaf, pendaftaran telah tutup sejak kuota terpenuhi”, jawab panitia PPPDB 2009/2010. 

Itulah, dinamika murid baru dan penerimaannya.

Laman Berikutnya »